{"id":32,"date":"2026-06-18T10:12:16","date_gmt":"2026-06-18T08:12:16","guid":{"rendered":"https:\/\/globalagriculturejournal.com\/id\/2026\/06\/18\/praktik-pertanian-cerdas-iklim-meningkatkan-panen-dan-ketahanan-pangan-di-india\/"},"modified":"2026-06-18T10:12:42","modified_gmt":"2026-06-18T08:12:42","slug":"praktik-pertanian-cerdas-iklim-meningkatkan-panen-dan-ketahanan-pangan-di-india","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/globalagriculturejournal.com\/id\/2026\/06\/18\/praktik-pertanian-cerdas-iklim-meningkatkan-panen-dan-ketahanan-pangan-di-india\/","title":{"rendered":"Praktik pertanian cerdas iklim meningkatkan panen dan ketahanan pangan di India"},"content":{"rendered":"<h1>Praktik pertanian cerdas iklim meningkatkan panen dan ketahanan pangan di India<\/h1>\n<p>Di India, adopsi metode pertanian yang adaptif terhadap iklim memungkinkan petani untuk meningkatkan hasil panen sambil memperkuat ketahanan pangan mereka. Teknik-teknik ini, yang dirancang untuk membatasi emisi gas rumah kaca dan melestarikan tanah, secara bertahap mengubah praktik petani kecil. Di wilayah Srikakulam dan Vizianagaram, Andhra Pradesh, ratusan petani telah mencoba pendekatan seperti penanaman padi langsung dan penanaman jagung tanpa olah tanah. Hasilnya menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam panen dan pendapatan.<\/p>\n<p>Petani yang menggunakan penanaman padi langsung melihat produksi padi mereka meningkat sebesar 1,53 kuintal per hektar, sementara pendapatan bersih per hektar meningkat lebih dari 5.000 rupiah. Untuk jagung, penanaman tanpa olah tanah memungkinkan peningkatan sebesar 1,62 kuintal per hektar dan keuntungan pendapatan sebesar 8.272 rupiah per hektar. Mereka yang menggabungkan kedua metode ini mendapatkan keuntungan yang lebih besar: hampir 3,9 kuintal per hektar dalam ekivalen padi dan pendapatan tambahan sebesar 12.812 rupiah per hektar. Peningkatan ini juga berdampak pada peningkatan pengeluaran konsumsi per orang dan ketahanan pangan yang lebih baik, dengan peningkatan 14% untuk rumah tangga yang mengadopsi kedua teknik tersebut.<\/p>\n<p>Beberapa faktor memengaruhi adopsi praktik-praktik ini. Petani yang memiliki lahan pertanian yang lebih luas, pendapatan tambahan di luar usaha tani, atau akses yang lebih mudah ke mesin pertanian cenderung lebih bersedia untuk mengadopsinya. Persepsi terhadap perubahan iklim juga memainkan peran kunci: mereka yang mengamati perubahan iklim lebih cenderung beralih ke inovasi ini. Pelatihan, pertemuan kesadaran, dan layanan penyuluhan pertanian juga memperkuat transisi ini dengan memberikan pengetahuan dan kepercayaan yang diperlukan kepada petani.<\/p>\n<p>Tanah juga mendapatkan manfaat dari metode-metode ini. Dengan mengurangi olah tanah, metode ini melestarikan struktur tanah, meningkatkan bahan organik, dan mendorong retensi air, yang membuat tanaman lebih tahan terhadap kekeringan. Metode ini juga membatasi penggunaan pupuk sintetis, sehingga mengurangi emisi dinitrogen oksida, gas rumah kaca yang kuat. Dalam jangka panjang, praktik-praktik ini meningkatkan keanekaragaman hayati tanah dan kemampuannya untuk menyimpan karbon, berkontribusi dalam melawan pemanasan global.<\/p>\n<p>Petani perempuan lebih mudah mengadopsi penanaman tanpa olah tanah untuk jagung, karena alat yang diperlukan, seperti penanda roda ganda, sederhana digunakan dan murah. Sebaliknya, mesin yang diperlukan untuk penanaman padi langsung, yang lebih kompleks dan mahal, tetap kurang dapat diakses oleh usaha tani kecil yang dikelola oleh perempuan.<\/p>\n<p>Meskipun memiliki keuntungan ini, adopsi praktik-praktik ini masih terbatas. Kurang dari 2% petani India menggunakan teknik-teknik ini, seringkali karena keterbatasan sarana atau pengetahuan. Namun, koperasi pertanian, pinjaman yang mudah diakses, dan kemitraan publik-swasta dapat mempercepat penyebarannya. Program sewa peralatan dan pelatihan terstruktur akan memberikan sumber daya yang diperlukan kepada petani untuk mengatasi hambatan awal.<\/p>\n<p>Praktik-praktik ini tidak hanya meningkatkan hasil panen dan pendapatan. Mereka juga mengubah cara petani memandang peran mereka dalam melindungi lingkungan. Dengan mengadopsi metode-metode berkelanjutan, mereka berkontribusi mengurangi jejak karbon pertanian sambil memastikan produksi pangan yang stabil untuk generasi mendatang.<\/p>\n<h1>Praktik pertanian cerdas iklim meningkatkan panen dan ketahanan pangan di India<\/h1>\n<p>Di India, adopsi metode pertanian yang adaptif terhadap iklim memungkinkan petani untuk meningkatkan hasil panen sambil memperkuat ketahanan pangan mereka. Teknik-teknik ini, yang dirancang untuk membatasi emisi gas rumah kaca dan melestarikan tanah, secara bertahap mengubah praktik petani kecil. Di wilayah Srikakulam dan Vizianagaram, Andhra Pradesh, ratusan petani telah mencoba pendekatan seperti penanaman padi langsung dan penanaman jagung tanpa olah tanah. Hasilnya menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam panen dan pendapatan.<\/p>\n<p>Petani yang menggunakan penanaman padi langsung melihat produksi padi mereka meningkat sebesar 1,53 kuintal per hektar, sementara pendapatan bersih per hektar meningkat lebih dari 5.000 rupiah. Untuk jagung, penanaman tanpa olah tanah memungkinkan peningkatan sebesar 1,62 kuintal per hektar dan keuntungan pendapatan sebesar 8.272 rupiah per hektar. Mereka yang menggabungkan kedua metode ini mendapatkan keuntungan yang lebih besar: hampir 3,9 kuintal per hektar dalam ekivalen padi dan pendapatan tambahan sebesar 12.812 rupiah per hektar. Peningkatan ini juga berdampak pada peningkatan pengeluaran konsumsi per orang dan ketahanan pangan yang lebih baik, dengan peningkatan 14% untuk rumah tangga yang mengadopsi kedua teknik tersebut.<\/p>\n<p>Beberapa faktor memengaruhi adopsi praktik-praktik ini. Petani yang memiliki lahan pertanian yang lebih luas, pendapatan tambahan di luar usaha tani, atau akses yang lebih mudah ke mesin pertanian cenderung lebih bersedia untuk mengadopsinya. Persepsi terhadap perubahan iklim juga memainkan peran kunci: mereka yang mengamati perubahan iklim lebih cenderung beralih ke inovasi ini. Pelatihan, pertemuan kesadaran, dan layanan penyuluhan pertanian juga memperkuat transisi ini dengan memberikan pengetahuan dan kepercayaan yang diperlukan kepada petani.<\/p>\n<p>Tanah juga mendapatkan manfaat dari metode-metode ini. Dengan mengurangi olah tanah, metode ini melestarikan struktur tanah, meningkatkan bahan organik, dan mendorong retensi air, yang membuat tanaman lebih tahan terhadap kekeringan. Metode ini juga membatasi penggunaan pupuk sintetis, sehingga mengurangi emisi dinitrogen oksida, gas rumah kaca yang kuat. Dalam jangka panjang, praktik-praktik ini meningkatkan keanekaragaman hayati tanah dan kemampuannya untuk menyimpan karbon, berkontribusi dalam melawan pemanasan global.<\/p>\n<p>Petani perempuan lebih mudah mengadopsi penanaman tanpa olah tanah untuk jagung, karena alat yang diperlukan, seperti penanda roda ganda, sederhana digunakan dan murah. Sebaliknya, mesin yang diperlukan untuk penanaman padi langsung, yang lebih kompleks dan mahal, tetap kurang dapat diakses oleh usaha tani kecil yang dikelola oleh perempuan.<\/p>\n<p>Meskipun memiliki keuntungan ini, adopsi praktik-praktik ini masih terbatas. Kurang dari 2% petani India menggunakan teknik-teknik ini, seringkali karena keterbatasan sarana atau pengetahuan. Namun, koperasi pertanian, pinjaman yang mudah diakses, dan kemitraan publik-swasta dapat mempercepat penyebarannya. Program sewa peralatan dan pelatihan terstruktur akan memberikan sumber daya yang diperlukan kepada petani untuk mengatasi hambatan awal.<\/p>\n<p>Praktik-praktik ini tidak hanya meningkatkan hasil panen dan pendapatan. Mereka juga mengubah cara petani memandang peran mereka dalam melindungi lingkungan. Dengan mengadopsi metode-metode berkelanjutan, mereka berkontribusi mengurangi jejak karbon pertanian sambil memastikan produksi pangan yang stabil untuk generasi mendatang.<\/p>\n<hr>\n<h2>Mentions des sources<\/h2>\n<h3>Publication cit\u00e9e<\/h3>\n<p><strong>DOI\u00a0:<\/strong> <a href=\"https:\/\/doi.org\/10.1007\/s44279-026-00670-9\" target=\"_blank\">https:\/\/doi.org\/10.1007\/s44279-026-00670-9<\/a><\/p>\n<p><strong>Titre\u00a0:<\/strong> Adoption of climate-smart agricultural strategies improves farmers\u2019 welfare and strengthens food security in peninsular India<\/p>\n<p><strong>Revue : <\/strong> Discover Agriculture<\/p>\n<p><strong>\u00c9diteur : <\/strong> Springer Science and Business Media LLC<\/p>\n<p><strong>Auteurs : <\/strong> Shiladitya Dey; Kumar Abbhishek; Suman Saraswathibatla; Debabrata Das<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Praktik pertanian cerdas iklim meningkatkan panen dan ketahanan pangan di India Di India, adopsi metode pertanian yang adaptif terhadap iklim memungkinkan petani untuk meningkatkan hasil panen sambil memperkuat ketahanan pangan mereka. Teknik-teknik ini, yang dirancang untuk membatasi emisi gas rumah kaca dan melestarikan tanah, secara bertahap mengubah praktik petani kecil. Di wilayah Srikakulam dan Vizianagaram,&hellip; <a class=\"more-link\" href=\"https:\/\/globalagriculturejournal.com\/id\/2026\/06\/18\/praktik-pertanian-cerdas-iklim-meningkatkan-panen-dan-ketahanan-pangan-di-india\/\">Lanjutkan membaca <span class=\"screen-reader-text\">Praktik pertanian cerdas iklim meningkatkan panen dan ketahanan pangan di India<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-32","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-lingkungan","entry"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/globalagriculturejournal.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/32","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/globalagriculturejournal.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/globalagriculturejournal.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/globalagriculturejournal.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/globalagriculturejournal.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=32"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/globalagriculturejournal.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/32\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":33,"href":"https:\/\/globalagriculturejournal.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/32\/revisions\/33"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/globalagriculturejournal.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=32"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/globalagriculturejournal.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=32"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/globalagriculturejournal.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=32"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}