{"id":36,"date":"2026-06-22T09:54:47","date_gmt":"2026-06-22T07:54:47","guid":{"rendered":"https:\/\/globalagriculturejournal.com\/id\/2026\/06\/22\/sistem-pangan-asia-terancam-oleh-iklim-dan-perdagangan\/"},"modified":"2026-06-22T09:58:15","modified_gmt":"2026-06-22T07:58:15","slug":"sistem-pangan-asia-terancam-oleh-iklim-dan-perdagangan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/globalagriculturejournal.com\/id\/2026\/06\/22\/sistem-pangan-asia-terancam-oleh-iklim-dan-perdagangan\/","title":{"rendered":"Sistem pangan Asia terancam oleh iklim dan perdagangan"},"content":{"rendered":"<p>&#8220;`html<\/p>\n<h1>Sistem pangan Asia terancam oleh iklim dan perdagangan<\/h1>\n<p>Di Asia-Pasifik, ketahanan pangan tetap menjadi tantangan besar, dengan lebih dari 370 juta orang mengalami kekurangan gizi pada tahun 2022, atau setengah dari total global. Negara-negara berpenghasilan menengah, terutama di Asia Selatan dan Tenggara, menghadapi kekurangan produksi lokal yang kronis, ketergantungan tinggi pada impor, serta kerentanan yang semakin besar terhadap guncangan eksternal. Perubahan iklim memperburuk situasi ini dengan meningkatnya kekeringan, banjir, dan gelombang panas, sehingga menurunkan produktivitas pertanian. Sementara itu, krisis ekonomi, seperti inflasi harga pangan atau gangguan perdagangan, mengungkapkan kerapuhan jaringan pangan global.<\/p>\n<p>Sebuah studi terbaru menganalisis kerentanan sistem pangan di 23 negara di kawasan ini antara tahun 2000 dan 2023. Hasilnya menunjukkan bahwa intensitas kekeringan dan ketergantungan pada impor pangan merupakan faktor risiko utama. Interaksi keduanya bahkan memperbesar risiko ini hampir 40%, menciptakan lingkaran setan yang sulit dipatahkan. Misalnya, negara-negara seperti Bangladesh atau Pakistan mengalami peningkatan kerentanan yang berkepanjangan setelah guncangan iklim, akibat ketergantungan tinggi mereka pada impor.<\/p>\n<p>Investasi publik dalam pertanian memainkan peran kunci untuk mengurangi kerentanan ini. Kenaikan 10% dalam pengeluaran pertanian dikaitkan dengan penurunan 4,3% kerentanan dalam lima tahun, dengan dampak yang bahkan lebih terasa di negara-negara berpenghasilan menengah. Investasi ini juga meredam dampak kekeringan dengan menyerap sekitar 28% dampak negatifnya. Sebaliknya, ketergantungan berlebihan pada impor meningkatkan kerapuhan, bahkan di ekonomi yang paling maju, karena hal ini mengekspos negara-negara terhadap fluktuasi harga global dan ketidakstabilan moneter.<\/p>\n<p>Tanpa perubahan arah, kerentanan pangan di kawasan ini bisa meningkat sebesar 8,9% menjelang 2030. Namun, strategi terpadu yang menggabungkan investasi dalam pertanian tangguh, diversifikasi perdagangan, dan pembangunan inklusif dapat mengurangi kerentanan ini sebesar 21,6%. Langkah-langkah ini meliputi peningkatan anggaran pertanian, modernisasi infrastruktur pedesaan, dan perlindungan sosial yang ditargetkan, terutama untuk perempuan. Negara-negara berpenghasilan rendah akan mendapatkan manfaat terbesar dari peningkatan pengeluaran publik dalam pertanian, sementara ekonomi yang lebih maju sebaiknya mengoptimalkan investasi ini untuk beradaptasi dengan iklim dan memperkuat kesepakatan perdagangan regional.<\/p>\n<p>Pendekatan ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan tidak hanya bergantung pada produksi lokal atau perdagangan internasional, tetapi pada kombinasi keduanya. Negara-negara harus sekaligus memperkuat kemampuan untuk memproduksi secara cukup dan mendiversifikasi sumber pasokan untuk membatasi risiko. Simulasi juga menunjukkan bahwa investasi dalam kesetaraan dan akses terhadap sumber daya, seperti infrastruktur pedesaan atau perlindungan sosial, tidak hanya adil, tetapi juga esensial untuk membangun ketahanan sistemik.<\/p>\n<p>&#8220;`<\/p>\n<hr>\n<h2>Mentions des sources<\/h2>\n<h3>Publication cit\u00e9e<\/h3>\n<p><strong>DOI\u00a0:<\/strong> <a href=\"https:\/\/doi.org\/10.1186\/s40066-026-00639-3\" target=\"_blank\">https:\/\/doi.org\/10.1186\/s40066-026-00639-3<\/a><\/p>\n<p><strong>Titre\u00a0:<\/strong> Vulnerability of agricultural food systems to climate and economic shocks: a hybrid machine learning and dynamic panel analysis of Asia-Pacific<\/p>\n<p><strong>Revue : <\/strong> Agriculture &amp; Food Security<\/p>\n<p><strong>\u00c9diteur : <\/strong> Springer Science and Business Media LLC<\/p>\n<p><strong>Auteurs : <\/strong> Yudi Ferrianta; Nuri Dewi Yanti<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&#8220;`html Sistem pangan Asia terancam oleh iklim dan perdagangan Di Asia-Pasifik, ketahanan pangan tetap menjadi tantangan besar, dengan lebih dari 370 juta orang mengalami kekurangan gizi pada tahun 2022, atau setengah dari total global. Negara-negara berpenghasilan menengah, terutama di Asia Selatan dan Tenggara, menghadapi kekurangan produksi lokal yang kronis, ketergantungan tinggi pada impor, serta kerentanan&hellip; <a class=\"more-link\" href=\"https:\/\/globalagriculturejournal.com\/id\/2026\/06\/22\/sistem-pangan-asia-terancam-oleh-iklim-dan-perdagangan\/\">Lanjutkan membaca <span class=\"screen-reader-text\">Sistem pangan Asia terancam oleh iklim dan perdagangan<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4,3,11],"tags":[],"class_list":["post-36","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-internasional","category-lingkungan","category-masyarakat","entry"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/globalagriculturejournal.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/36","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/globalagriculturejournal.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/globalagriculturejournal.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/globalagriculturejournal.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/globalagriculturejournal.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=36"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/globalagriculturejournal.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/36\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":37,"href":"https:\/\/globalagriculturejournal.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/36\/revisions\/37"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/globalagriculturejournal.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=36"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/globalagriculturejournal.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=36"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/globalagriculturejournal.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=36"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}